Senandung Cintaku
Jumat di penghujung Maret, tiba-tiba, bergerak dengan kecepatan cahaya, menumbuk diriku yang bermassa kecil nan sedang berjalan terengah-engah seakan berada dalam perjalanan di jalur pendakian ke puncak Mt. Everest. Belum sempat aku menghitung momentum diriku setelah tumbukan dahsyat itu atau berapa Joule energi kinetikku yang terserap, seketika seluruh kekuatanku sirna, kabur dan perlahan menghilang.
Diriku laksana memandang gugusan bintang di kesyahduan langit tanggal lima belas dan tanpa awan yang menghalangi pandanganku. Pada arah 61 derajat kiri dari utara, sebuah bintang memberi sinyal, menyapa dan berbisik padaku, raihlah daku, tumpahkan semua ekspektasimu padaku. Siang itu, aku baru saja menerima surat dari Holland, pada sampulnya dicap prioritaire, sekaligus gambar seorang manusia yang sedang mengayunkan kaki untuk berlari, mengisyaratkan surat itu harus cepat diantar secepatnya dan pada alamat yang tertera, karena sesosok insan di ujung dunia sana sedang berada di jung penantian. Di dalam sampulnya yang putih mewangi kudapati si tulip dan daffodil, tatapanku membuat aku terlanjur jatuh hati akan keelokannya yang tersohor kemana-mana. Setiap kali kupandangi dan kucium, ia seolah tersenyum padaku dan seakan tahu aku merindukannya. Saat itu aku merasa punya kekuatan cinta dan seolah memiliki sayap untuk terbang.
Detik demi detik berlalu, jarum penunjuk waktu kembali lagi ke posisinya, hari yang kulalui selalu diiringi aura cintamu. Aku tlah bertekad, kulakukan semua untuk dapat menemui dan menaklukkanmu, walau hanya sekali. Di bawah logika akal sehatku, aku masih sadar bahwa untuk bertemu denganmu, aku akan bertarung mati-matian dan akan mengorbankan hal yang menurut monyet sekalipun merupakan hal yang paling konyol untuk dilakukan. Itulah rencanaku dengan mengambil keputusan terbesar sepanjang hidup dan karirku. Kesuksesan atau kegagalan menjalani cinta bersama dirimu di belahan dunia sana akan menjadi esensi untuk menjalani seluruh sisa hidupku. Bagiku, menaklukkan cintamu adalah harga mati bagiku. Seandainya aku hanya meraih sebagian cintamu, berarti aku akan pulang dengan membawa sekoper oleh-oleh berjudul kehampaan.
Perjuanganku nyaris berakhir menjelang weekend, masih memikul semangat 45, tak ada kata untuk menyerah selagi masih ada jalan, baik lurus, berliku ataupun berkerikil tajam. Usai Jumat di Masjid Salman, satu lagi, a thing by request, menjadi harapan terbesarku untuk memecahkan karang es pengejaran cinta ini. Dalam keadaan seperti ini, hujan badai sekalipun, hanyalah tantangan mudah dan sepele. Akhirnya, misiku selesai, hasilnya incredible, nilai fungsi trigonometri di kuadran satu, aku merasa mendapatkan lagi sebuah kekuatan magic. Hanya sesaat, hape-ku bergetar, dan, stop right there, your game is over, pelan namun tegas dan sangat jelas, itulah analisa sekaligus kesimpulan percakapanku. Diriku spontan membeku.Semua harapan tlah pupus, walau aku punya satu peluang lagi untuk meraih cinta dan cita-cita, namun aku tahu kalaupun tetap kujalani, itu sangat sulit dan absurd. Alam mencoba menghiburku dan seraya berbisik padaku, malam ini, desiran angin malam ’kan membawa semua cinta dan mimpimu, dan tersenyumlah. Jika dulu hidupku hanya punya mimpi, saat ini, aku takut bermimpi, seakan semuanya hanya akan berakhir pada air mata cinta.

